CERPEN – DI BALIK DUSTA



CERPEN – DI BALIKDUSTA - Memangnya orang sepertiku tidak boleh sekolah di sini? Memangnya cuma anak orang kaya saja yang boleh sekolah di SMU  terkenal? Memangnya aku tidak layak mendapat teman sebaik Reva? Kenapa mereka selalu bersikap sinis terhadapku. Aku tidak pernah melakukan hal yang membuat mereka jadi benci atau tidak suka padaku.

“Udahlah, Adit dan Virni itukan cs banget, cuekin aja kalau mereka lagi meledek kamu,” ujar Reva saat melihat teman – teman sekelas mulai meledekku.

“Aku tahu, aku sadar diri kok,” jawabku pelan.
“Jangan masukin dihati ya, nanti juga mereka capek sendiri,” hibur Reva. Aku tersenyum tipis. Dari ratusan anak yang bersekolah disini cuma Reva yang baik hati. Beasiswa yang kudapat dari orang tua asuh akulah yang membuatku bisa sekolah. Ayahku hanya penjaga rel kereta api, sedang ibu tidak bekerja. Kalau bukan karena kebakan pak Surya, sahabat ayah yang sudah sukses, mungkin aku dan kedua adikku tidak bisa sekolah setinggi ini.

Kadang aku tidak kuat mendengar ledekan teman – teman sekelas. Mereka selalu memanggilku Neng cewek kampong atau Neng penjaga rel kereta. Keinginanku untuk belajar dan kebaikan Reva lah yang membuatku bertahan melewati semua ini. Tidak jarang Reva harus adu mulut jika sedang membelaku. Ia memang sahabat yang baik dan tidak pernah sekalipun malu berteman denganku. Meski cantik, kaya dan cukup populer di sekolah tapi ia tidak memperlakukan seperti yang lain. Ia sering mengajakku makan di kantin sekolah atau jalan ke mall. Aku senang sekali berteman dengannya.

“Neng, nanti pulang duluan aja ya, aku ada janji sama Ryan.”
“Iya, salam ya buat Ryan.”

Aku memandang kagum sosok di hadapanku ini. Sudah cantik, baik, pintar, punya pacar yang ganteng dan baik seperti Ryan pula. Ryan juga tidak sombong padaku jika kamu bertemu, ia selalu ramah dan baik. Mereka memang pasangan yang serasi.

***************
Sudah tiga hari ini ibu sakit. Walau sudah dibawa ke dokter tapi panas yang dideritanya tetap tidak turun. Aku takut ibu terkena tipes.  Persediaan uang di rumah semakin menipis. Anjuran Bule Ratmi tetanggaku, ibu harus di bawa ke rumah sakit untuk menghindari hal – hal yang membahayakan. Ayah sudah pusing mencari uang. Ia sudah berusaha mencari pinjaman dari kantor tetapi tidak dapat karena potongan hutang ayah belum selesai. Kedua adikku masih kecil, mereka belum bisa aku ajak berunding untuk mengatasi masalah ini.

satu – satunya jalan, aku harus bekerja. Tapi kerja apa? Aku masih harus sekolah. Kucoba bertanya pada toko – toko di pasar yang kulewati tiap pulang sekolah. Apakah mereka membutuhkan karyawan, tapi hasilnya nihil. Aku semakin bingung. Keadaan ibu semakin parah, aku malu untuk pinjam ke tetangga karena sudah banyak hutang keluargaku pada mereka.

“Beberapa hari ini kamu sering melamun, ada apa Neng?” Tanya Reva menyadarkanku dari lamunan.
“Eh, enggak ada apa – apa,” jawabku bohong.
“Cerita aja kali, siapa tahu aku dapat membantu,” ujurnya seperti tidak percaya dengan jawabanku.

Aku tersenyum tipis. Apa aku harus cerita pada Reva? Ah tidak! Sudah puluhan kali ia membantu keluargaku. Minggu kemaren, ia baru membelikan baju seragam dan sepatu baru untuk kedua adikku. Kalau cerita ia pasti akan membantu. Tidak boleh! Ia sudah terlalu baik. Siang dan panas, aku dan Reva menunggu bus di halte depan sekolah. Biarpun ia kaya tapi tetap tidak mau diantar jemput. Ia lebih suka naik bus ke sekolah.
“Neng, aku duluan ya!” serunya setelah melihat bus jurusannya datang.
“Hati – hati!” teriakku melihatnya berlari mengejar bus.

Tiba – tiba mataku tertuju pada amplop putih yang jatuh seiring dengan tubuh Reva yang loncat ke dalam bus. Aku segera mendekati dan mengambilnya. Benar ini milik Reva karena tertulis namanya disana. Amplop cukup tebal itu di lem. Ku lihat isinya ternyata lembaran uang lima puluh ribuan yang lumayan banyak. Huh, untung saja jatuhnya di dekatku bukan di atas bus. Segera kumasukkan uang itu ke dalam tas.

Panas ibu makin tinggi. Kedua adikku mulai menangis. Mereka takut kehilangan ibu, sedang ayah hanya terpukur menatap wajah ibu yang pucat pasi. Hatiku resah, apakah uang milik Reva harus kugunakan untuk membawa ibu ke rumah sakit lalu nanti baru ku jelaskan bahwa aku meminjamnya. Tanpa pikir panjang aku segera menyuruh ayah memapah tubuh ibu dan membawanya ke rumah sakit. Saat ayah tanya aku dapat uang darimana, aku bilang pinjam dari teman.

Syukurlah, ibu tidak terlambat di tolong. Kata dokter kalau sehari lagi ibu tidak di rawat mungkin nyawanya sudah hilang. Lega sekali rasanya melihat ibu bisa lebih segar walaupun masih lemah. Kecemasanku seminggu ini sedikit demi sedikit berangsur hilang.
*************
“Duh Neng, aku lagi bête nih!” seru Reva sesaat baru datang.
“Kenapa? Berantem sama Ryan, ya?” godaku.
“Bukan, kemaren pulang sekolah aku kecopetan.”
“Kecopetan? Dimana? Apa yang dicopet? berondongku.
“Bukan dompet, tapi uang dalam amplop, tadinya uang itu mau aku bayarin buat pendaftaran kursus eh dicopet dalam bus, apes deh!” keluhnya.

Uang dalam amplop? Berarti uang yang kemaren aku temukan. Bukankah hari ini aku mesti bilang padanya kalau uang itu ada padaku dan aku pakai buat berobat ibu. Tapi bilang uang itu dicopet, apa berarti ia menganggap uang itu sudah hilang?

“Trus dimarahin sama mama dong?” tanyaku memancing reaksinya.
“Gak terlalu sih, aku dibilang sembrono taruh uang sembarangan, padahal naik angkutan umum.” ujurnya setengah menggerutu.
“Kamu kesel gak sama pencopetnya?”
“Kamu nanyanya aneh deh! Ya kesel lah emang cari uang gampang. Mencuri itu kan dosa, biarin ajalah mau marah juga gak bikin uangku balik.”
“Kalo tiba – tiba pencopet itu balikin uangnya gimana?”
“Neng…. Neng, kamu tuh lucu banget deh. Hari gini gitu loh! Mana ada tukang copet dengan rela hati mau balikin barang yang sudah dicupinya,” serunya seraya menertawakan pertanyaanku.

Kutatap kembali wajahnya yang terlihat santai. Aku yakin, buat keluarga Reva kehilangan uang segitu tidak terlalu berarti. Tapi, walau bagaimanapun aku tidak ada bedanya dengan pencopet. Uang Reva yang seharusnya aku kembalikan malah kupakai. hatiku gundah, perasaan bersalah mulai muncul dalam hatiku. Apakah aku harus terus terang padanya? Tapi melihat Reva tidak terlalu risau atas k ehilangan itu, hatiku jadi ragu. Apa kubiarkan saja ia menganggap uangnya telah hilang?

“Neng, kamu kenapa sih bengong terus?” tegur Reva sambil menyentil hidungku. Aku tersenyum sambil menanggapi gurauannya. Setelah tiga hari di opname. Seluruh uang Reva ku pakai untuk melunasi biaya pengobatan ibu.

“Neng, gimana kita mengganti uang milik teman kamu itu?” tanya ayah setelah melihat ibu sudah beristirahat.
“Teman Neng baik, yah! Katanya kita bisa kembalikan kapan saja,” jawabku berbohong.
“Apa Reva lagi yang menolong kita?”
“Bukan, Yah! Kita sudah terlalu banyak ditolong Reva. Neng malu untuk terus – terusan minta bantuan darinya.”

“Iya juga, Reva itu baik sekali. Bersyukurlah kamu punya teman seperti dia.” Kata – kata ayah menghantam hatiku. Reva memang sangat baik. Kebaikannya kubalas dengan dusta. Harusnya aku jujur padanya dari awal. Aku yakin ia pasti membantuku. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kalau aku ceritakan padanya sekarang bisa jadi ia malah berburuk sangka padaku.

Setiap melihat Reva aku selalu ingat akan hal itu. Perasaan bersalah kian hari kian menggunung di hati. Meski Reva nampaknya sudah melupakan peristiwa itu tapi tidak denganku. Melihat kebaikannya, aku semakin terkungkung dengan perasaan berdosa. Apa yang harus aku lakukan?

Perasaan itu akhirnya membuatku takut untuk berdekatan dengannya. Sekarang aku lebih sering menghindar dan menolak tiap kali ia mengajakku jalan atau bercanda seperti biasanya. Aku takut ia bisa membaca kebohonganku. Aku takut ia marah padaku. Aku takut ia benci padaku jika tahu akulah yang memakai uangnya.

“Sebenarnya aku salah apa sama kamu. Neng?” tanyanya saat memaksaku makan bareng di kantin.
“Salah? Kamu enggak salah apa – apa sama aku,” jawabkku heran.
“Udah beberapa minggu ini sikap kamu berubah, kamu jarang ngobrol denganku, kamu sering nolak bila aku ajak pergi, kamu larang aku main kerumah kamu, apa aku melakukan tindakan yang bikin kamu sakit hati?” tanyanya panjang lebar.

“Bukan …… bukan itu. Kamu nggak pernah punya salah apa – apa sama aku. Cuma memang akhir – akhir ini aku sedang sedikit gelisah,” ujarku gugup.
“Gelisah? Kenapa? Kamu lagi jatuh cinta?” guraunya?
“Bukan, aku….. aku…..,” lidahkku kelu untuk berkata jujur tentang hal yang sebenarnya.
“Ya udah kalau belum siap cerita, tapi yang penting bukan karena aku kan?”

Aku menggeleng lemah. Duuuuh …….. Tuhan, kenapa kejujuran itu sangat mahal harganya. Sampai kapan aku harus menanggung perasaan bersalah ini? sampai kapan aku harus berpura – pura tidak ada apa – apa di hadapannya? Maafkan aku, Reva. Aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik buat kamu. Sekali lagi maafkan aku.



By : UVIE
TAMAT

CERPEN – Susahnya Bilang PUTUS

CERPEN – Susahnya Bilang PUTUS - Hampir 3 bulan Karel pacaran sama Natasha. Mereka sanggup bikin anak – anak satu sekolah pada iri. Yang satu cantik, yang satunya lagi ganteng. Benar – benar perfect couple. Awalnya Karel menikmati keirian teman – temannya. Hatinya gembira banget karena berhasil memiliki most wanted sekolah. Dia juga bangga kalo Natasya mulai memamerkan dirinya. Tapi 2 minggu belakangan, Karel bawaannya males melulu ketemu Natasha. Cewek itu enggak pernah bosan nyeritain betapa kerennya Karel. Ngenalin Karel sama temen – temennya dan pamer kemesraan di depan umum. Lama – lama Karel kan jadi risih juga.
Pas Karel lagi asyik ngelamun di kelas, Jono, temannya sejak sejak SMP menepuk bahunya.
“Ngapain lo bengong kayak ayam tetelo gitu?” Tanya Jono.
"Males Jon,” jawab Karel pendek.
“Eh, tadi gue ketemu Natasha di depan Lab. Biologi. Dia nanyain elo, tuh!”
“Dia ngomong apa?”
“Dia bilang, lo disuruh nganter dia bimbel abis pulang sekolah.”
“Halah, paling gue mau dipamerin lagi sama temen – temennya. Lama – lama gue tengsin, Jon!”
“Lho! Kenapa sih, Rel! Gue liat akhir – akhir ini lo bête melulu sama Natasha, curhat dong Bro!”

Karel memandang Jono, “Menurut lo, Natasha itu manfaatin gue enggak, sih!”
“Manfaatin gimana?”
“Ya, bukannya sombong nih! Lo kan tau kalo gue lumayan popular.”
“Kalau itu sih gue juga tahu. Trus apa hubungannya sama Natasha?”
“Sejak gue jadian sama Natasha, dia tuh kerjaannya mamerin gue melulu, kayak gak ada kerjaan lain. Kalo kayak gini terus pamor gue bukanya naik, malah makin turun. Gue kan malu juga sama anak – anak.”
“Masa iya sih, Bro? Eh, tapi gue denger dari tetangga gue yang sekelas sama Natasha, kayaknya emang bener. Kata tetangga gue, Natasha hobi banget mamerin elo.”
“Terus gue harus gimana?”
“Mana gue tahu.”
“Ayolah Jon! Lo kan sahabat gue banget. Kasih saran dong!”
“Lo putusin aja! Kenapa ribet banget?”
Karel memikirkan kata – kata Jono. Anak itu kadang – kadang norak dan ceplas – ceplos, tapi omongannya manjur dan tepat.
“Eh, gue cuma becanda! Jangan lo masukin dalam hati,” kata Jono buru – buru begitu melihat ekspresi Karel yang serius mikir.
“Emang sih, Jon. Putus adalah solusi terbaik. Tapi gue enggak mungkin mutusin Natasha. Entar dia sakit hati, lagi!” Kata karel enggak menghiraukan ralat dari Jono.
“Trus?”
“Biar Natasha aja yang mutusin gue. Tapi gimana caranya? Kalo gue ngomong langsung, dia pasti marah.”
“Lo puny aide?”
“Ada sih, tapi udah basi. Kita coba dulu aja kali, ya?”
“Kenapa enggak?”
Rencana Pertama
Hari ini Karel mulai menjalankan rencananya. Emang sih, udah basi banget. Tapi siapa tahu bakal berhasil. Dalam rencana ini, Karel bekerja sama dengan teman sekelasnya yang bernama Cita. Karel bakal PDKT sama Cita di depan Natasha supaya doi marah.

Nggak lama kemudian, Natasha muncul dari ujung koridor. Karel dan Cita berdiri berdekatan. “Cit, kemaren gue sama nyokap ketemu nyokap lo, di minimarket kedet kompleks. Ternyata nyokap kita saling kenal. Emang rumah lo dimana?” Karel mengawali percakapan.

“Rumah kita kan satu komplek cuma beda blok aja,” jawab Cita.
“Oh ya? Wah, deket dong! Kapan – kapan gue boleh main ya!”
“Natasha gimana?”
“Dia sih gampang! Lo masih sendirian aja kan.”
Tiba – tiba Natasha merangkul lengan Karel. Dia tersenyum manis pada Cita. Cita jelas – jelas kaget ngelihat ekspresi Natasha. “Hai, Cit! Lo lagi ngobrol sama cowok gue ya? Gimana, dia orangnya asik banget kan?” Tanya Natasha dengan ramah.

“Iya, Nat!” CIta mati gaya di depan Natasha.
“Cowok gue gitu loh! paling top deh!”
Karel melepas rangkulan Natasha. “Nat, risih tau dilihat orang - orang.”
“Sini, ikut gue,” bisik Natasha sambil menarik Karel ke tempat yang nggak terlalu rame.
“Apaan sih?” Tanya Karel.
“Jam 4 sore jemput gue ke rumah,” jawab Natasha.
“Emang lo mau kemana?”
“Gue mau ke salon.”
“Ke salon? Bukannya 2 hari yang lalu lo baru saja dari salon?”
“Karel, kayaknya gue harus tampil maksimal supaya mata lo nggak ngelirik kesana – kemari.”

****************
Rencana Kedua
Rencana Karel hari ini benar – benar gila. Dia biasanya tampil cool, hari ini berubah jadi makhluk paling jorok sedunia. Dia tahu Natasha benci sama orang yang jorok. Sebenarnya, maunya Karel cuma satu ; supaya Natasha bilang ‘Putus’.

Ketika Karel masuk ke kelas, semua mata memandangnya dengan takjub. Bayangin, hari ini Karel cuma cuci muka. Bajunya kayak seabad enggak di setrika. Sepatunya kotor dan berdebu kayak abis dipakai marathon di padang pasir. Dan kayaknya Karel belum sisiran sejak bangun tidur.

“Rel, lo udah gila ya?” teriak Jono begitu melihat tampangnya Karel.
“Namanya juga pengorbanan, Bro!” jawab Karel santai. Ketika matahari sudah mulai tepat di atas kepala, Karel mulai garuk – garuk badan. Sementara itu, Jono yang duduk di sebelah Karel menutup hidung rapat – rapat.
“Ngapain lo, tutup hidung?” Tanya Karel.
“Nah, lo sendiri ngapain garuk – garuk gitu!” Jono balik bertanya.
“Badan gue gatel banget nih, lengket lagi!”
“Dari sini baunya juga udah kecium, gila asem banget!” Mereka menahan tawa.
Istirahat kedua tiba. Natasha menerobos masuk ke dalam kelas Karel. Melihat Natasha datang, Karel merentangkan tangan berniat memeluknya. Awalnya Natasha emang mau meluk Karel. Tapi ketika jarak mereka tinggal beberapa jengkal, Natasha malah menghindar.

“Hueeeek……………….,” ucap Natasha jijik.
“Kenapa?” Tanya Karel pura – pura bego.
“Lo bau banget tau! Dasar jorok!”
“Biarin.”
“Lo tuh nyebelin banget sih!” Dalam hati Karel tertawa. “Ayo Nat, bilang putus!” batinnya.
“Mulai besok, gue bakal datang ke rumah lo sebelum berangkat sekolah. Gue gak mau lo tampil menyedihkan kayak hari ini. Bikin malu aja!” kata Natasha berapi – api. Cewek itu keluar dari kelasnya Karel penuh emosi. Jono yang ngelihat semua itu cuma bisa menatap Karel dengan bingung. Karel mengangkat bahu dan lesu.

“Gila, susah banget Natasha bilang putus,” ucapnya kesal.
“Gue nyerah, Rel! Stok ide gue udah mepet,” Kata Jono putus asa.
****************
Karel enggak tahu harus berbuat apa supaya Natasha mutusin dia. Siang itu begitu bel pulang berbunyi, Natasha menyeret Karel ke Kantin. Ternyata kantin sudah penuh sama teman – teman Natasha.
“Hai semua, maaf telat!” seru Natasha centil. Nggak lama kemudian udara kantin terkontaminasi oleh berbagai macam gosip.  Karel merasa jadi alien di antara cewek – cewek itu.

“Dengerin ya semuanya! Hari ini nilai Matematika cowok gue paling tinggi di kelas. Hebat nggak sih?” Kata Natasha bangga.

“Wah, lo hebat banget, Rel!”
“Natasha ketularan pinter, dong!”
“Lo nggak salah pilih cowok, Nat!”
Kira –kira begitu komentar teman – teman Natasha. Karel cuma nyengir kuda nanggepin semua itu. Enggak penting banget sih!

“Gimana kalo kita usul sama pak Gunawan supaya Karell ikut Olimpiade Matematika?” usul Natasha.
Mata Karel hampir copot karena melotot saking lebarnya. “Otak Natasha udah kebalik, apa? Bisa – bisanya dia punya ide gila kayak gitu?” omel Karel dalam hati.

“Setuju……….!!!!!” jawab teman – teman Natasha kompak.
Karel kesal dan langsung meninggalkan Natasha tanpa permisi. Jelas aja cewek – cewek itu pada kaget.
****************
Pagi – pagi banget, Natasha datang ke kelas Karel. Begitu tau ceweknya datang, Karel malah menghindar. Dia keluar dari kelasnya. Natasha setengah berlari mengejar langkah – langkah panjang Karel. Natasha mencengkeram lengan Karel untuk menghentikan langkah cowok itu. “Apa – apa sih lo!” teriak Karel, marah.

“Elo yang apa – apaan! Ngapaian kemaren lo pergi tanpa pamit? Lo bener – bener bikin gue malu!” Natasha balas berteriak.

“Nat, seharusnya yang malu itu seharusnya gue! Kemaren gue pergi begitu aja, soalnya gue udah muak dengerin bualan lo!”

“Gue juga udah bête sama tindakan – tindakan konyol yang lo buat kemaren – kemaren.”
Sejenak mereka terdiam.

“Jujur ya, Nat. Gue capek jalan sama lo. Gue rasa, kita emang enggak cocok,” kata Karel.
“Rel, gue sebenarnya juga enggak cinta sama lo. Gue pacaran sama lo cuma semata – mata demi Reta. Lo inget Reta, kan? Dia adalah cewek yang pernah lo putusin. Dan sejak saat itu, dia benci banget sama lo,” kata Natasha.

“Trus, apa hubungannya lo sama Reta?”
“Gue temennya waktu SMP. Gue harap lo bisa ngertiin gimana perasaan kita kalo sahabat kita  disakitin. Maafin gue ya, Rel! Mendingan kita lupian aja semua yang pernah kita alamin.”
Tiba – tiba Karel menangkap kata – kata terakhir dari Natasha. “Jadi…..?” kata Karel “Kita putus?” Natasha mengangguk.

“Thanks God!” batin Karel seneng banget.
“Rel, kalo gue naksir temen sekelas lo, nggak apa – apa, kan?” Tanya Natasha.
"Emang lo naksir siapa? Andi?” tebak Karel. Andi adalah anggota tim basket sekolah. Orangnya, cakep juga sih. Natasha menggeleng. “Bukan.”
“Trus?”
“Jono.”
“??????”

By : LINDA PURNAMASARI



TAMAT

CERPEN – Tiza Gak Mau Punya Adik

Tiza Gak Mau Punya Adik - Aku menatap botol parfum kesayanganku yang pecah di lantai. Segala amarah berkecambuk di pikiranku  namun masih dapat berfikir tentang siapa yang bersalah atas kejadian ini, “Chicaaaaaaaa!!!”

Aku berteriak memanggil satu – satunya orang di rumah ini yang mungkin melakukan ini semua “Chicaaaaaaaa!!!”. Sesosok tubuh yang cuma sepertiga dari tinggiku masuk ke dalam kamar dengan takut – takut. “Kenapa, Kak?”

Aku segera menarik bajunya dengan mengarahkannya ke tempat dimana botol parfumku itu pecah dan cairan di dalamnya mengotori lantai dan karpet kamar. “Pasti kamu yang mecahin botol parfum gue! Iya, kan?” bentakku tidak sabar lagi. “Ng….. i-ya-iya, Kak. Gak sengaja…..,” katanya pelan.

“uhhhhhhhh!!!!!!!!” Aku mencubit lengannya dengan geram. “Kamu pikir itu parfum murah? Kamu pikir Cuma segampang itu bilang ‘gak sengaja’? Enak banget udah mecahin parfum gue, eh ditinggal begitu saja. Di bersihin kek, di rapiin kek, minta maaf kek!!”.

“Maafin CHica ya, Kak,” Chica merunduk gemetar, tidak berani menatap wajahku.
“Dasar bego!!” runtuhku kesal. “Pokoknya kamu bersihin tumpahannya. Trus beliin parfum kayak gitu lagi. Minta sama ibu kamu.”

Chica buru – buru ke luar kamarku dan mengambil lap untuk membersihkan tumpahan parfum itu dan ketika kembali ke kamarku dia sudah bersama ibunya.

“Ada apa sih, Sayang? Kok kamu teriak – teriak?” Tante Dewi melihat sekeliling kamarku, berusaha menemukan apa yang telah menyebabkan aku rebut dengan Chica. “Tuh, anak Tante. Seenaknya masuk  kamar orang, mecahin parfum yang paling mahal, udah gitu enggak punya inisiatif buat ngelapin tumpahannya.”

Tante Dewi menatap Chica. “Kamu masuk ke kamar Kakak Tiza sembarangan, ya?”
“Tadi aku cuma mau liat boneka – boneka Kak Tiza kok, Ma. Tapi aku enggak liat ada botol parfum di situ, terus botolnya jatuh. Tapi aku enggak sengaja. Bener kok, Ma.”

Chica memandang ibunya, berusaha meyakinkan bahwa hal itu bukan sebuah kesengajaan. “Tetap saja, lo masuk sembarangan ke kamar gue tanpa ijin,” Sungutku. Tante Dewi kemudian mengambil lap di tangan Chica. “Ya, sudah, sini Mama aja yang bersihin. Chica makan siang aka bareng Kak Tiza, ya.”

Chica langsung berlari secepat mungkin ke ruang makan sementara Tante Dewi berkata padaku. “Maafin Chica ya, Sayang. Nanti Mama ganti parfumnya.” Aku melengos mendengar ucapan Tante Dewi  dan segera ke ruang makan untuk makan siang. Chica, adik tiriku yang masih berumur enam tahun itu, belum berani menatap wajahku tapi ia mengambilkan piring yang berisi nasi seraya berkata, “Kak, ini nasinya.”

Aku menatap Chica dan piring nasi pemberiannya dengan benci. “Jangan sok baik lo, pake nawarin nasi segala. Gue lagi diet makanya gak makan nasi. Makanya jadi anak kecil jangan sok tau.” Dengan kekecewaan yang tampak sekali diwajahnya, Chica menarik lagi piring nasi yang ia sodorkan. Meskipun begitu aku tetap tidak mau peduli. Sejak tiga tahun yang lalu dia dan ibunya dating ke kehidupanku, aku jadi benar – benar tidak bahagia. Jadi buat apa memikirkan perasaan Chica kalau justru dia dan ibunya sama sekali tidak memperhatikan perasaanku.

Waktu aku berumur tiga belas tahun, keluargaku mengalami kecelakaan mobil. Cuma aku dan papa yang selamat, sedangkan Mama dan adikku Lila, yang masih berumur lima tahun tidak bisa dipertahankan. Sebenarnya aku bisa menerima kenyataan, toh kasih sayang papa masih cukup buatku. Tapi kemudian ada Tante Dewi yang mulai berani masuk ke dalam kehidupan kami berdua. Tante Dewi itu karyawan took papa, janda dengan anak yang masih berumur tiga tahun. Bagi papa, Tante Dewi dianggap cocok untuk menggantikan Mama, lalu anaknya yang bernama Chica selalu dianggap sebagai pengganti Lila.

Gak ada yang bisa menggantikan Mama dan Lila. Bahkan si anak sialan yang bernama Chica itu. Tingkah lakunya bikin sebel, dari hari pertama dia tinggal disini aja dia udah minta yang macem – macem. “KakTiza main, yuk,’ ‘Kak Tiza, aku bobo di kamar kakak, ya?’, ‘Kakak, bantuin aku ngerjain pe-er,yuk.’ Blah, blah, blah….., semua tingkahnya mencari perhatian, dia pikir aku bisa menyukai dia barangkali. jangan harap. Dia enggak akan bisa menggantikan adikku, Lila.

Baru kemaren aku mencubit lengan Chica sampai merah, yang pada akhirnya membuatku kena marah Papa dan dilarang nonton selama seminggu kecuali aku minta maaf ke Chica (sesuatu hal yang tentu saja tidak akan aku lakukan). Papa tidak habis pikir kenapa aku tega mencubit Chica, padahal ia jauh lebih kecil dibandingkan aku yang sudah SMA. Tapi aku tidak mau bilang kenapa, karena Papa pasti tidak mau mengerti. Papa sudah terlalu sayang sama Chica, sampai – sampai aku merasa kasih sayang Papa lebih banyak ke Chica yang cuma anak tiri.

Walaupun setelah dipikir – pikir, sebenarnya aku tahu mengapa aku tidak mau member tahu Papa mengapa aku mencubit Chica sampai ia terisak pelan – pelan karena menahan rasa sakit. Ini gara – gara beberapa malam belakangan Chica selalu ke kamarku dan meminta ijin untuk tidur di kamarku, dan pada malam itu aku tidak sabar lagi saat Chica kembali bertanya “Kak Tiza, aku boleh gak bobo sama kakak di sini?” Akibatnya aku mencubit tangan Chica kuat – kuat dan mengusirnya ke luar dari kamarku. Rupanya, isakan Chica terlihat Papa. Aku kena marah. Huff, dan hari ini Chica berulah lagi dengan memecahkan botol parfum kesayanganku. Kalau aku mencubitnya lagi pasti aku akan kena hukuman untuk kedua kaliny. Gak adil.
Tereng…. terengtereng

Aku buru – buru menganbil handphone-ku dan menyahut, “Iya, Liv?”
Di seberang sana Livia, sahabatku. “Tiz, besok jadi anterin gue belanja, kan?”
“Iya, iya..”
“See You, then.”
“Umm…., Kak,” Chica menyela lamunanku . “Dekat sekolah Chica ada yang jualan es krim juga, lho. Kak Tiza mau aku beliin, gak? Kalau mau besok aku beliin deh abis pulang sekolah. Kata teman – teman Chica, es krimnya enak. Tapi Chica belum pernah beli, soalnya tokonya ada di seberang jalan raya. Chica takut kalau nyeberang, jalannya rame…..”

“Brisik!” sergahku. “Siapa suruh lo nguping pembicaraan orang. Iya, gue emang mau es krim, tapi ogah banget kalo yang beliin itu lo. Gak usah sok baik deh, percuma aja lo nawarin kayak gituan, gue juga mampu beli sendiri…..! Kayak lo punya duit aja…, anak SD kayak lo kan uang jajannya cuma bisa buat beli gorengan di pinggir jalan….!”

Chica terdiam mendengar ucapanku, tapi ia sempat berkata pelan sebelum akhirnya diam. “Aku kan punya uang tabungan….”
“Diem lo!” bentakku.

***

Livia menepati janjinya, begitu bel sekolah berbunyi ia langsung bergegas ke kelasku. Dengan diantar kakak perempuannya, kami menuju salah satu mall terbesar di Jakarta untuk belanja. Asyiknya lagi, selesai belanja, Livia mentraktirku es krim dan wafel di sebuah konter yang menjual produk susu dan yogurt. Double Choco Wafel plus es krim vanilla sudah siap disantap di hadapanku. Sedang asik – asiknya menikmati pesananku sambil ngobrol, tiba – tiba percakapan kami terputus oleh bunyi telepon genggamku. Papa, aku membaca identitas pemanggil di layar handphone-ku. “Iya, Pa!”

“Kamu di mana sekarang?” Papa terdengar gusar di ujung telepon. Apa – apaan, sih? Baru juga pergi belanja sebentar, lagi pula ini kan belum terlalu sore. “Di mall dekat sekolah, belanja bareng Livia,” jawabku sebal.

“Papa jemput sekarang!  Kamu tunggu di depan gerbang mall, ya. Lima belas menit lagi sampai sana!” Lalu papa mematikan sambungannya. “Idih…..! Bokab gue nggak asik banget, deh! Masa baru pergi sebentar, eh udah dijemput aja! Sory ya, Liv! Gak bisa lama – lama, nih.” Aku meraih tas sekolahku dan menghabiskan es krim di depanku secepat yang aku bisa. Hanya beda lima menit setelah aku menunggu di gerbang mall, Papa sudah tiba. Aku masuk mobil dengan setengah ngambek. “Aku kan baru jalan – jalan sebentar, Pa.”
“Bukan itu, sayang. Kita harus cepat – cepat ke rumah sakit,” kata Papa, berusaha tidak kelihatan terlalu panic. “Mama kamu tadi telepon ke toko. Katanya Chica ketabrak mobil saat lagi nyebrang jalan di depan sekolahnya.” Sedikit sentakan mendera jantungku. “Lho, kalo pulang Chica gak pake nyebrang, kan? Ada mobil jemputan, kan?”

“Iya, tadi Mama juga udah konfirmasi ke supir jemputannya. Kata supirnya begitu bel sekolah, Chica enggak kelihatan di mana – mana. Tiba – tiba aja ada keramaian di depan toko es krim di seberang jalan, ternyata Chica sudah tergeletak di jalanan. Mobil yang menabrak Chica langsung kabur.”

Sedikit perasaan bersalah muncul di hatiku. Bagaimana mungkin? Chica bilang dia enggak berani  nyebrang. Entah mengapa perasaan bersalah ini makin kentara di hatiku apalagi ketika tiba di rumah sakit  dan menemukan tubuh kecil berbaring lemah di atas ranjang. Kakinya terbalut perban dan kepalanya penuh goresan di sana – sini. Ada selang yang menancap di ujung tangannya. Sosok dengan keadaan seperti itu mengingatkanku pada tubuh yang sama tiga tahun yang lalu. Lila juga beperti itu keadaannya ketika terbaring kritis di rumah sakit sampai akhirnya tiga hari kemudian ia tidak mampu bertahan.

Tante Dewi segera memelukku sambil manangis. Pelukan yang sebenarnya bisa ku lepaskan dengan jijik di situasi biasa, namun sekarang keadaannya berbeda. Anaknya yang baru berumur enam tahun terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Papa hanya mampu berdiri di depan Chica, mengusap rambutnya dan menatap dengan nanar. Tatapan yang sudah dapat ku baca karena tatapan itu lebih perih disbanding tiga tahun yang lalu, kini Papa harus mengalami situasi serupa lagi, situasi dimana maut tengah mengincar anak bungsunya.

Kemudian terlihat olehku, sebuah bungkusan plastik putih yang berada di bawah latai dekat ranjang Chica terbaring. “Apa itu, Tante?” tanyaku. Tante Dewi mengusap matanya. “Kata orang – orang yang membawa Chica ke sini, bungkusan itu dibawa Chica saat ia tertabrak mobil. Itu es krim. Ada dua kotak besar,” sambil terisak lagi, Tante Dewi melanjutkan. “Sebelum pingsan, kata mereka Chica sempat bilang kalau es krim itu untuk kakaknya dan menolak untuk melepaskannya karena sudah janji untuk memberikannya ke kakaknya.”
Air mata mulai merebak di pelupuk mataku. Anak nakal itu….., aku menjerit dalam hati! Tercabik antara perih dan sedih yang tiba – tiba datang, sudah tahu jalanan ramai, masih aja dia nyebrang. Tanpa sadar aku meraih bungkusan itu dan mengintip di dalamnya, isinya sudah remuk dan basah, kemungkinan meleleh. Aku duduk disamping Chica dan meraih tangan yang lemah. Kini air mata sudah membasahi wajahku dan tanpa sadar aku berbisik lirih. “Chica, kamu harus sembuh, ya. Kak Tiza janji bakal ngijinin kamu bobo di kamar Kakak. Kakak janji bakal ngebantu kamu ngerjain pe-er. Kakak janji bakal sayang sama Chica. Tapi Chica harus bertahan. Harus….., karena Kakak cuma punya kamu. Kakak gak mau kehilangan lagi. Gak mau, Sayang.” Aku mengecup tangannya sepenuh hati, mengucap permohonanku kepada Tuhan.


By : Ristra Arditha

Cerpen - Lima Keburukan Si Buruk


Lima Keburukan Si  Buruk - Gelar Si Buruk hanya diberikan kepada satu orang dalam satu tahun ajaran. Kita semua tahu pemberian gelar  yang jelek itu perbuatan sangat tercela, tetapi itu sudah membudaya dan menjadi tradisi, bahkan sebelum kami masuk ke sekolah ini.

Tapi toh, guru – guru tidak ada yang protes. Mungkin karena tidak tahu, atau mungkin tidak mau disibukkan oleh hal – hal yang remeh. Ironisnya, sekolah kami adalah sekolah islami. Sekolah yang ilmunya berimbang dengan akhlak. Tetapi, tak begitu kenyataannya ……

Sebagian murid setuju – setuju saja pada pemberian gelar itu, dengan alasan gelar yang jelek itu bisa digunakan sebagai motifasi, agar orang yang diberi gelar menjadi lebih baik. Tetapi sebagian murid lagi tetap menganggap hal itu adalah perbuatan yang tercela. Di dalam tahun ajaran ini, anak Kepala Sekolah bersekolah di sekolah bernuansa islam ini. Dan di tahun ini, dengan seenaknya saja dia memberikan gelar ‘Si Buruk’. Ia menunjuk satu orang diantara seribu murid lainnya. Semua orang sudah mengenal murid yang ditunjuk anak Kepala Sekolah  itu. Ia adalah penerima gelar “Si Buruk” tahun lalu. Hal ini adalah sejarah di sekolah ini, karena ada satu orang yang mendapatkan gelar ‘Si Buruk’ dalam dua tahun ajaran. Apakah ia benar – benar buruk ?

Keburukan pertama untuknya mungkin karena orang tuanya salah member nama. Namanya adalah Uglyananta. Empat huruf pertama “Ugly” dalam bahasa Indonesia berarti “Jelek”. Meskipun itu bukan alasan yang tepat untuk memberi gelar si buruk  kepadanya., tetapi banyak yang mempermasalahkannya. Pagi ini, ibu Nurbaini yang mengajarkan mata pelajaran Akhlaqul Kharimah mengabsen muridnya di kelas 8A.
“Tiara Khairiyyah?”
“hadir, Bu….”
“Uglyananta?”

Sebagian orang berbisik – bisik tentang namanya, bahkan ada yang mengejek. Si buruk langsung berdiri dan pergi ke tempat anak yang mengejek paling keras. “Ada masalah dengan nama gue, heh?” Ia melotot menatap anak itu. Anak itu terkejut dan spontan menjawab “Kamu kenapa, sih?”

“Lu ngejek nama gue, kan?”
“Nanta duduk!” perintah Bu Nurbaini.
“Asal lu tau, Ugly itu singkatan dari nama orang tua gue, Sugriman dan Lyla! Jadi, lu gak berhak untuk ngejek!” Jelas Nanta yang tidak bisa menghilangkan nada marah di setiap kalimatnya.

Perkataan itu di potong oleh Bu Nurbaini, “Kalian ini kenapa? Nanta! Kembali ke tempat duduk kamu!” Nanta kembali ke tempat duduknya. “Apa kalian sadar? Di kelas ini, ibu mengajar Akhlaqul Kharimah. Dan yang kalian lakukan tadi, bertengkar, merupakan akhlak yang sangat tercela!”
Nanta menunduk. “Maaf Bu….,” bisiknya nyaris tidak terdengar.

“Jadi ini hasilnya? Ini hasilnya yang ibu peroleh setelah mengajar kalian tentang akhlak terpuji?” Ibu Nurbaini menghela nafas dan menatap kosong, “Ternyata semua sia – sia….” Semua murid di kelas mendesah dan ada beberapa yang menatap Nanta seolah menyalahkan. Nanta hanya diam dan tidak menggubris tatapan orang padanya. Mengapa harus ia yang disalahkan? Kenapa orang – orang mengejek yang sepertinya dianggap benar? 

“Jangan ulangi lagi ya Nanta?” Kata Bu Nurbaini sambil tersenyum.
Apa? Guru pun ikut menyalahkannya? Nanta menghela nafas. “Baik, Bu…..,” jawabnya terpaksa.
Keburukan kedua, kata orang – orang, karena wajahnya. Ini adalah alasan yang paling tidak pantas untuk memberikan gelar itu padanya. Memang sih kulitnya agak gelap, tetapi tidak terlalu.

Wajahnya tidak jelek, tapi lebih tepatnya: menakutkan. Matanya besar, nyaris seperti melotot setiap saat. Banyak jerawat di mukanya, dan ada bekas luka jahitan di pipinya.

Sewaktu jam istirahat ia berlari hendak ke WC. Tapi, tepat di pintu WC, anak Kepala Sekolah  berteriak, “Ada setan!”
Nanta hanya terdiam dan melongo. Semua penghuni WC berhamburan keluar.
“Awas! Awas! Ada setan!”
“Hey, ini gue, Nanta. Bukan setan!”  teriakannya sama keras dengan teriakan anak Kepala Sekolah.
“Oh…., kamu ternyata….”

Nanta hampir tidak percaya, apakah sejelek itu wajahnya, sampai ia dibilang setan?
Lagian, apakah tidak cukup bagi anak Kepala Sekolah ini memberinya gelar ‘Si Buruk’? Haruskah ia diberi gelar kedua, yaitu ‘Si Setan’?

Nanta meringis, ia baru sadar kepalanya sakit karena bertabrakan dengan anak Kepala Sekolah tadi. Akhirnya, ia melupakan niatnya ke WC dan bergegas ke UKS. 

Di UKS ada seorang PMR (Palang Merah Remaja) yang bertugas, Stella.
“Nanta, ada apa?” tanya Stella, teman sekelas yang paling baik dan bersikap biasa kepadanya. “Kepala gue sakit….” rintihnya. Stella mengambil obat dan menyuruh nanta berbaring. “Kepala kamu kenapa sampai bengkak kek gini?”

“Tadi gue nabrak anak Kepsek, trus kepala gue kena deh, eh… dia malah bilangin gue setan!”
Stella tertawa kecil. “Lu setuju ya, kalau muka gue mirip setan?” Stella menggeleng, “Kamu manis kok, kalau kamu sering tersenyum sama orang disekitarmu…. “ Nanta tertegun. Ia lupa soal tersenyum selama ini. Ia bahkan tak ingat umur berapa ia terakhir tersenyum. tiba – tiba rasa sakit di kepalanya hilang. “Gue udah baikan nih, Stell,” Kata Nanta sambil bangkit dari tidur. sebelum meninggalkan UKS, Nanta tersenyum kepada Stella.

***
Nyontek, hmmm …. itulah keburukan yang ketiga. ya ….. walaupun sebenarnya banyak murid dan bukan Nanta saja yang menyontek dalam ujian. Tetapi Nanta berbeda, menyontek itu seperti kegemarannya. Mudah saja baginya untuk mendapatkan jawaban dari murid lain, baik dengan cara paksaan atau ancaman.
“Janji ya, lu harus ngasih jawaban ke gue!” bentaknya pada Nia.
“Y.. ya..”
“Ingat! Kalau jawabannya A, lu kedipin mata. Kalau jawabannya B lu pegang idung, kalau C pegang kening, terus, kalau D pegang jilbab!” Jelas Nanta. “Oke…” Lirih Nia.
“Hmm…, kalau entar soalnya essei, lu kasih kertas jawabannya punya lu ke gue!”
“Tapi….N-nt…..” Nia tampak bingung.
“harus!” Nanta melotot, lalu tampak bingung.

Bel pelajaran ke-3 berbunyi, pelajaran Matematika berganti dengan pelajaran Biologi. Bu Shinta masuk dengan tentengan yang berisi lembaran soal ujian.

“Seperti janji yang telah disepakati pada pertemuan yang lalu, kita akan mengadakan ulangan harian yang ke-empat. Soal ujian kali ini terdiri dari soal pilihan ganda dan essei, harap bekerja sendiri – sendiri!” Kemudian Bu Shinta membagikan lembaran soal ujian ke setiap murid.

“Keluarkan kertas selembar dan buat jawabannya disana!” Perintah Bu Shinta. Beberapa menit kemudian kelas menjadi hening. Masing – masing murid sibuk dengan ujiannya. Sementara itu pula, Nanta mulai sibuk mengode Nia yang berjarak satu meja darinya.

Akhirnya, walaupun enggan. Nia memalingkan wajah pada Nanta. Nanta menanyakan jawaban nomor dua, Nia memegang jilbabnya, dan Nanta lalu menuliskan huruf D pada kertas jawabannya. Begitu soal – soal pilihan ganda yang lain, ia mendapatkan semua jawaban dari Nia. Ketika Nanta sibuk memikirkan cara untuk mendapatkan jawaban soal essei dari Nia, HP Bu Shinta berbunyi. 

“Wa’alaikum salam, ada apa? Oh permasala…” Bu SHinta tampak asik bercakap – cakap. Nanta memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan jawaban soal essei dari Nia.

“Sssssshhhhhh…… Nia! Cepet lempar! perintah Nanta sangat pelan. Nia seperti tak rela, tapi akhirnya ia menyalin jawaban soal essei pada kertas jelek, lalu meremes kertas itu dan melemparkannya pada Nanta.
“Nanta! Nia! Kalian pikir saya tak memperhatikan kalian?!” Suara Bu Shinta yang lantang mengagetkan semua murid di kelas.
“Nanta. kamu menyontek pada Nia?” Tanya Bu Shinta.
“Enggak!” bantah Nanta sama lantangnya dengan suara Bu Shinta, “Saya hanya….. hanya….. meminta jawaban…..,” lirih kemudian.
“Meminta jawaban heh?” ulang Bu Shinta, “Lalu, Nia, kenapa kamu mau memberikan jawaban pada Nanta?” Nia hanya terdiam. “Nanta sampaikan pada orang tuamu untuk ke sekolah besok pagi, saya ingin bertemu.”

***
Keburukan ke-empat mungkin  nyata bagi siapa saja, bahkan juga bagi guru -  guru. sifat Nanta sangat buruk dan meresahkan orang – orang disekitarnya. Mulai dari cara bicaranya yang tidak sopan, suka berbohong, jorok dan sebagainya. Karena sifatnya yang jelek itu, ia dijauhi semua orang, kecuali Stella. Ya….., walaupun Stella tak begitu dekat dengannya, tetapi Stella tak menjaga jarak darinya. Bu Nurbaini sering mengulang – ngulang tentang akhlak terpuji kepadanya, tetapi tidak pernah digubris.
“Nanta, untuk melalukan akhlak terpuji itu tak susah, loh…. bahkan kamu bisa melakukannya dimana saja….”
“Ibu, kenapa sih, suka ikut campur? Lagian, ntar kalau saya yang banyak dosa kan saya yang masuk neraka, bukan Ibu!” Nanta sengaja memotong nasehat Bu Nurbaini.
“Jaga cara bicara kamu, Nak….”
“Hhhhh……,” Nanta berlalu pergi.

Ia juga tak pernah taat pada peraturan dan sering tidak membuat tugas yang diberikan guru kepadanya. Dengan kalimat lain, tak ada yang bisa diharapkan darinya. Selain itu, joroknya berlebihan. Bajunya kelipat – lipat, tidak pernah disetrika. Lokernya juga pernuh oleh bulletin atau artikel sekolah bulan – bulan sebelumnya. Ia bahkan pernah pergi ke sekolah pada jam wajib tanpa jilbab. Rambutnya yang seperti ijuk sebahu, digerainya. Waktu itu, semua guru melotot padanya. Ketika guru bertanya, ia hanya menjawab bahwa seluruh jilbabnya dicuci. Masuk akalkah????

Nanta senang membuat onar dimana – mana. Bahkan, dengan anak laki – laki sekalipun. Ia pernah tertangkap polisi karena ikut tawuran. Untung saja itu ia tidak di keluarkan dari sekolah dengan alasan dia hanya ikut – ikutan. Semua itu tak membuatnya jera.

“Kita tak boleh lagi memberikan Nanta hukuman atau tindakan keras, ia tak akan jera., ia sudah kebal dengan hal semacam itu. Saya rasa, yang ia butuhkan adalah kasih sayang.”
Nanta tak sengaja mendengarkan percakapan itu ketika ia melewati ruang guru. Lalu ia mengintip lewat jendela. Yang berkata seperti itu adalah Bu Nurbaini. Tetapi guru – guru lain tak ada yang memberi tanggapan pada perkataan Bu Nurbaini.

“Ia saja tak sayang pada lingkungannya, bahkan pada dirinya sendiri! Bagaimana kita akan memberikan kasih sayang kepadanya?” Akhirnya guru yang paling dekat dengan Bu Nurbaini berkata. Bu Nurbaini menghela nafas. Sepertinya usahanya sia – sia. Nanta merasa bersalah. Sebegitu besarkah kasih sayang Bu Nurbaini kepadanya? Ia bertekad mengubah semua sikap buruknya. Tapi harus mulai dari mana? Ia mengingat – ngingat Akhlaqul Karimah yang diajarkan Bu Nurbaini di kelas.

“Nanta!” Stella memanggil dari belakang. Ia berbalik.
“Kenapa lu? uhm…. maksudku….., ada apa?” Nanta berusaha sopan. Stella tersenyum, “Makan di kantin, yuk!” Nanta mengangguk, kemudian ia teringat pada PR. Ia sama sekali tak mengerjakan. Lalu ia merasakan  rasa bersalah dan penyesalannya terhadap Bu Nurbaini.

***
Keburukan kelima adalah bagian paling buruk dari segala – galanya. Uglyananta adalah aku! Dan dari semua yang aku ceritakan, membuat aku merasa pantas menjadi ‘Si Buruk’.  Tetapi aku merasa menyesal dan putus asa. Tak ada hal yang bisa diharapkan dalam diriku. Hanya ada penyesalan dan penyesalan yang terus berputar di benakku. Kamu tahu, susah untuk mengubah semua yang telah terjadi. Aku bersiap untuk pulang sekolah, dan kumasukkan semua bukuku ke dalam tas.

“Stell, aku pulang dulu, ya….” Stella mengangguk.
Aku berjalan menelusuri trotoar. Rumahku kira – kira satu setengah kilometer dari sekolah. Aku memutuskan untuk berjalan kaki sambil memikirkan semuanya. Di tepi trotoar, dekat lampu merah, aku melihat pengemis. Kurogoh sakuku dan kuserahkan semua uang yang kupunya.

“Terima kasih, Nak. Kau harus melihat lebih dalam dirimu, dan kau akan bersyukur pada Tuhan atas yang telah diberikan-Nya padamu.”

Aku tertegun. Apa maksud semua ini? Tapi tiba – tiba aku mempunyai sebuah tekad kuat, entah bagaimana….., untuk mengubah segalanya.


By : Khanza Jamalina Bodi

TAMAT